Main Article Content

Abstract

Pragmatisme adalah ajaran yang memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “guna” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil, tokohnya Charles Sanders Peierce (1839-1914), William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Pragmatisme dalam pendidikan lebih menekankan pada pertimbangan psikologis dan sosiologis yang diterjemahkan dalam bentuk kurikulum. Selanjutnya agar proses pembelajaran bisa berjalan efektif dalam artian sesuai dengan maksud pragmatis yang akan dicapai, metode problem solving dan belajar dengan berbuat sangat dikedepankan. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide baik individu, kelompok, dan masyarakat dan perubahan konteks waktu dan tempat. Sementara Islam memandang bahwa standar perbuatan sudah dijelaskan melalui petunjuk Allah dalam al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan hanya pada kemanfaatan atau kegunaan riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semata dihasilkan oleh sebuah ide, ajaran, teori, atau hipotesis tertentu. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS Al Maidah: 48-49. Adapun tujuan pendidikan Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri seperti dalam surat Adz-Dzariyat:56, yaitu untuk beribadah pada-Nya, serta dalam al-Baqarah: 30, yaitu sebagai khalifatullah di bumi. Pendidikan Islam selayaknya merupakan suatu proses untuk memanusiakan manusia sesuai dengan tujuan penciptaan beserta fitrahnya. Memanusiakan manusia dalam perspektif pendidikan Islam yaitu menjalankan tugasnya di muka bumi, baik sebagai abdullah maupun khalifatulah (dalam individu, keluarga, masyarakat, alam).

Keywords: Pragmatisma, Filsafat Pendidikan Islam.

Article Details